Mutiara Hadits - 1

Dari Abu ‘Abs, yaitu Abdurrahman bin Jabr Rasulullah saw bersabda; tidaklah kedua telapak kaki seorang hamba berdebu di jalan Allah lalu ia tersentuh oleh api neraka (HR al-Bukhari dan lainnya).

Mutiara Hadits - 2

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiallohu 'anhu, Pelayan Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sallam, ia berkata; Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda, Sungguh pagi hari berangkat atau sore hari kembali dari berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Mutiara Hadits - 3

Dari Abu Hurairah , berkata; nabi  ditanya, Apakah amal yang paling utama? Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan rasulNya. Lalu ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah” Kemudian ditanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Mutiara Hadits - 4

Dari Ummul Mu’minin, Ummu Abdillah, A’isyah , berkata, wahai Rasulullah, kami melihat jihad adalah amal yang paling utama, mengapa kami tidak (dilibatkan dalam) berjihad? Beliau menjawab, “Tidak, tetapi jihad yang paling utama (bagi wanita) adalah hajji yang mabrur (HR al-Bukhari).

Mutiara Hadits - 5

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda; barangsiapa mati padahal ia belum pernah berperang, dan tidak pernah terlintas di benaknya keinginan untuk berperang maka ia mati di atas salah satu cabang kemunafikan (HR Muslim).

Rabu, 22 Februari 2012

Aqidah Jihad Kaum Muslimin [2]

PEMBAHASAN KEDUA: MAKHLUK ALLAH ADA DUA, MUKMIN DAN KAFIR

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ

"Dan seandainya Tuhanmu menghendaki, niscaya ia pasti menjadikan manusia itu menjadi umat yang satu, namun mereka tetap berselisih kecuali siapa saja yang Dia kehendaki, dan karena itulah Allah menciptakan mereka." (QS. Hud : 118 – 119)

Artinya, Allah SWT menciptakan mereka untuk berselisih baik di dalam agama–agama mereka, aqidah–aqidah mereka dan pendapat–pendapat mereka. Inilah pendapat yang mashyur dan shahih dari tafsir ayat ini sebagaimana ucapan Ibnu Katsir (Juz 11/465).

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوْا الْعَذَابَ الأَلِيمَ فَلَوْلا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

"Sesungguhnya orang–orang yang telah pasti terhadap mereka kalimatRobbmu, tidaklah akan beriman meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, sehingga mereka meyaksikan azab yang pedih. Dan mengapa tidak ada suatu penduduk negeri yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya, selain kaum Yunus? Takala mereka (kaum Yunus itu) beriman, kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan kami memberi kesenangan kepada mereka sampai pada waktu tertentu. Dan jikalau Tuhanmu menghendaki tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang–orang yang beriman semuanya?."(QS. Yunus : 96 – 99).

Sudah menjadi kehendak Allah bahwa makhlukNya akan terbagi menjadi dua bagian, mukmin dan kafir. Ini merupakan Masyi’ah Kauniyah Qadariyah (kehandak Allah terhadap alam menurut takdir yang telah ditetapkanNya yang pasti datang).

Allah berfirman:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Sesungguhnya kehendakNya apabila Ia menghendaki suatu hanyalah berkata kepadanya, jadilah! maka terjadilah ia." (QS.Yasin : 82)

وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا

"Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku."(Qs. Ahzab : 38)

Terbaginya makhluk Allah menjadi mukmin dan kafir juga dikuatkan Firman Allah:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ

"Dialah yang telah menciptakan kalian maka di antara kalian itu ada yang kafir dan ada yang mukmin."(QS. At Taghabun : 2 )

Kejadian itu bermula setelah mereka beriman semenjak diciptakannya Adam alaihissalam hingga terjadinya kesyirikan di kalangan anak keturunan Adam. Sebagaimana firman Allah SWT :

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا

"Dan tidaklah keadaan manusia itu (sebelumnya) melainkan sebagai umat yang satu, lalu mereka berselisih." (QS. Yunus : 19)

Imam Ibnu Katsir berkata, Ibnu Abbas mengatakan: "Jarak antara Adam dan Nuh 10 (sepuluh) abad, semuanya memeluk Islam, kemudian muncullah persesilisihan di antara manusia, dan berhala–hala, tandingan–tandingan, dan patung–patung pun disembah. Lalu Allah mengutus para utusanNya dengan ayat–ayatNya, bukti–bukti yang nyata, hujjah–hujahNya yang gamblang dan keterangan–keterangan yang dapat membatalkan kebathilan. Allah SWT berfirman:

لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ

"Yaitu agar orang–orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang–orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata pula."(QS. Al Anfal : 42)

Saya katakan, tatkala kekufuran terjadi pada anak Adam Allah SWT mengutus para Rasul. Allah berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمْ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

"Keadaan manusia (dahulu) sebagai umat yang satu, lalu Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan dan telah menurunkan bersama mereka Kitab dengan kebenaran, agar Nabi tadi memberi keputusan di antara manusia tentang apa–apa yang mereka perselisihkan."(Qs. Al Baqarah : 213)

Walaupun Allah SWT telah mengutus utusan-utusanNya, dengan bukti–bukti yang nyata dan hujjah–hujjah yang jelas namun tetap saja muncul perselisihan yang bersifat takdir dan manusiapun terbagi menjadi mukmin dan kafir surta terjadilah peperangan antara kedua kelompok tersebut. Sebagaiman firmanNya:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمْ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنْ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

"Para Rasul itu sebagian mereka Kami beri kelebihan dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang diajak bicara oleh Allah dan sebagian mereka ada yang diangkat derajat–derajatnya. Dan Kami telah memberi Isa bin Maryam bukti–bukti nyata dan Kami kuatkan ia dengan Ruhul Qudus. Dan sekiranya Allah menghendaki niscaya orang–orang setelah mereka tidak akan saling membunuh setelah datang bukti–bukti nyata itu. Tetapi Allah mengerjakan apa yang Dia kehendaki." (QS. Al Baqarah : 253)

Tiada satu Rasulpun pasti diantara kaumnya ada yang kufur terhadapnya. Bahkan Nabi SAW pernah berkata tentang sebagian para Nabi pada hari kiamat:

ويأتي النبي ليس معه أحد

"Dan akan datang seorang Nabi sedangkan tidak disertai oleh seorangpun." (Muttafaq alaih dari Ibnu Abbas)

Allah SWT telah mengisahkan peristiwa semacam ini dalam firmanNya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ

"Dan kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih (seraya berkata) "Beribadahlah kepada Allah!" lalu mereka menjadi dua kelompok yang bermusuhan." (QS. An Naml : 45)

Maka takala Shalih menyeru mereka agar hanya beribadah kepada Allah SWT saja, merekapun terpisah menjadi dua kelompok dan diantara keduanya terjadi permusuhan.
Demikianlah, hal ini berlanjut hingga Allah menutup para Rasul dengan Nabi Muhammad SAW di mana mereka tetap terbagi menjadi kelompok mukmin dan kelompok kafir. Sebagaimana tersebut dalam hadis:

«ومحمد فرق بين الناس

"Dan Muhammad itu pemisah antara manusia." (HR Al Bukhari dari Jabir)

Keadaan semacam ini akan berlangsung hingga hari kiamat. Meskipun Allah SWT berkehendak, yaitu dengan takdirNya manusia terbagi menjadi mukmin dan kafir, dan hal tersebut sesuatu yang mesti terjadi. Hanya saja kita percaya bahwa manusia itu akan dihisab terkait dengan amal–amal yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri. FirmanNya:

وَمَا تُجْزَوْنَ إِلا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

"Dan kalian tidak akan diberi balasan melainkan (sesuai) dengan apa yang kalian kerjakan." (QS. Ash Shoffat : 39)

Kita juga percaya bahwa Allah SWT tidak akan menzholimi seorangpun walaupun sedikit saja! Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

"Sesungguhnya Allah itu tidak menzholimi manusia sedikitpun, tetapi manusia itu sendiripun menzholimi diri mereka sendiri." (QS. Yunus : 44)

Dan di dalam hadis Qudsi disebutkan:

يا عبـادي إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا

"Wahai hambaKu, sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan aniaya (zhalim) atas diriKu. Dan Allah menjadikan perbuatan zhalim itu sesuatu yang diharamkan diantara kalian. Karena itu janganlah kalian saling menzhalimi." (HR. Muslim dari Abu Dzar)

Sumber: Ma'aalim Asasiyyah Fil Jihad

Selasa, 21 Februari 2012

RENUNGAN KEJUJURAN

Kisah Teladan dan Fenomena Hilangnya Kejujuran

Kisah Ke Satu
Bilal radhiyallahu ‘anhu meminangkan seorang wanita bangsa Quraisy untuk saudara-nya, maka dia berkata kepada keluarga wanita tersebut, "Kami adalah orang yang telah anda ketahui dan anda kenal, dahulu kami adalah budak, lalu Allah subhanahu wata’ala memerdekakan kami, dahulu kami orang yang sesat, lalu Allah subhanahu wata’ala memberikan petunjuk dan kami dahulu adalah orang yang fakir, lalu Allah subhanahu wata’ala memberikan kami kecukupan. Maka aku meminang kepada anda si Fulanah untuk saudaraku ini, jika kalian mau menikahkan, maka segala puji hanya milik Allah dan jika kalian menolak, maka Allah Maha Besar.

Maka sebagian mereka saling melihat kepada sebagian yang lain, kemudian salah seorang dari mereka berkata, "Bilal adalah orang yang telah kalian ketahui latar belakangnya, kedekatan dan kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka nikahkanlah saudaranya itu. Maka mereka pun akhirnya menerima lamaran itu dan menikahkan saudara Bilal dengan wanita tersebut. Ketika seluruh urusan sudah selesai, berkatalah saudara Bilal kepadanya, "Semoga Allah mengampunimu, adapun engkau maka engkau hanya menyebutkan latar belakangmu dan kebersamaanmu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak menyebutkan selainnya. Maka Bilal radhiyallahu ‘anhu berkata, "Oh iya, engkau benar, maka sekarang aku nikahkan kamu dengan kejujuran." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ke Dua
Diriwayatkan dari Sahl bin Aqil rahimahullah dia berkata, "Suatu ketika Ismail ’alaihis salam membuat janji untuk datang ke rumah seseorang. Maka datanglah Ismail, tetapi orang tersebut lupa. Maka beliau pun menunggu dan bermalam di tempat itu sehingga datang orang tersebut dari kepergiannya kemarin.” Oleh karena itu di dalam al-Qur'an beliau disebut sebagai "shadiqul wa'di" (orang yang menepati janji), sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata’ala, artinya:
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur'an. Sesungguh-nya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.”(QS. Maryam:54)

Kisah Ke Tiga
As'ad bin Ubaidillah al-Makhzumi rahimahullah berkata, "Abdul Malik bin Marwan rahimahullah memerintahkan aku agar mengajari anak-anaknya kejujuran, sebagaimana aku mengajari mereka al-Qur'an."

Kisah Ke Empat
Ismail bin Ubaidillah rahimahullah berkata, "Ketika ayahku sudah dekat ajalnya, dia mengumpulkan seluruh anak-anaknya lalu berkata kepada mereka," Wahai anak-anakku! Wajib atas kalian semua taqwa kepada Allah, membaca al-Qur'an dan merutinkannya. Dan wajib atas kalian untuk jujur walaupun jika salah seorang dari kalian membunuh seseorang lalu ada salah satu kerabatnya yang bertanya. Demi Allah aku tidak pernah berdusta sama sekali semenjak aku membaca al-Qur'an."

Kisah Ke Lima
Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau lebih dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq rahimahullah karena kejujurannya di dalam berbicara.

Fenomena Hilangnya kejujuran
Orang yang memperhatikan kondisi manusia di masa ini, maka akan mendapati betapa telah terabaikannya sisi kejujuran ini. Di antara sebabnya adalah karena lemahnya keimanan di dalam hati kaum muslimin, tersebarnya kemaksiatan di setiap tempat serta ber-lebihan di dalam mencintai kehidupan dunia. Maka rasa takut terhadap sesama manusia telah mendominasi sehingga menyebabkan hilangnya kejujuran dalam ucapan, perbuatan dan segala kondisi mereka.
Dalam hadits disebutkan bahwa kejujuran merupakan ketenangan, maka jika kejujuran telah hilang akan hilang pula ketenangan dalam kehidupan dan pergaulan antar sesama. Sehingga yang tersebar adalah rasa gelisah dan saling curiga sebagai ganti dari rasa tenang.
Di antara fenomena yang tersebar di tengah masyarakat yang mengindikasikan lemahnya kejujuran adalah sebagai berikut:

1. Tersebarnya Ucapan Dusta
Bahkan bukan hanya ucapan dusta, tetapi termasuk juga amalan dan segala kondisi, padahal ia merupakan salah satu dosa besar. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:
"Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (QS. Ali Imran:61)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Tiga hal, barang siapa yang pada dirinya terdapat ketiganya maka dia adalah orang munafik. Yaitu jika berbicara dusta, jika berjanji menyelisihi dan jika dipercaya berkhianat."(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Fenomena Ingkar Janji
Ingkar janji sebagaimana disebutkan di dalam hadits di atas merupakan salah satu ciri kemunafikan. Kini ingkar janji telah menjadi hal yang lumrah bagi sebagian orang, bahkan di antara mereka ada yang dikenal dengan manusia ingkar janji.
Di antara bentuk ingkar janji yang sering dianggap remeh oleh kebanyakan manusia adalah:
Terlambat atau mengundur keda-tangan dengan tanpa ada alasan, seperti seseorang yang berjanji akan datang jam delapan tetapi dia baru datang jam sembilan, dengan tanpa alasan yang dibenarkan. Termasuk juga orang tua yang mengingkari janji terhadap anak-anaknya untuk membelikan sesuatu atau memberinya sesuatu.
Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dusta itu tidak layak baik dalam bergurau atau sungguh-sungguh, dan janganlah seseorang di antara kalian berjanji terhadap anaknya dengan sesuatu lalu tidak melaksanakannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

3. Mengkhianati Amanah
Amat banyak manusia yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya, misalnya seorang pegawai tidak melakukan hal-hal atau pekerjaan yang seharusnya dituntut dan menjadi tugasnya. Di antara contohnya adalah terlambat datang di tempat kerja, dan jika datang bukannya melaksanakan pekerjaan dan tugasnya tetapi menelpon ke sana-sini bukan untuk urusan kerja, membaca majalah atau koran dalam jam kerja, atau nonton acara televisi dan lain sebagianya.
Demikian juga mengambil cuti sakit padahal tidak sakit, dan dia lupa bahwa dirinya dengan demikian telah memakan harta orang lain dengan tanpa bekerja. Apa hak dia mengambil upah secara utuh sementara hari kerja yang seharusnya dia masuk bekerja dikurangi dengan tanpa alasan yang dibenarkan?

4. Menipu Dalam Jual Beli
Di antara bentuknya adalah dengan menyembunyikan cacat barang dagangan, padahal si penjual ini mengetahui bahwa dagangannya cacat, tetapi dia tidak memberitahukan kepada si pembeli. Dia beralasan bahwa itu salah pembeli sendiri mengapa tidak meneliti dahulu barang yang akan dia beli. Menyembunyikan aib barang dagangan merupakan sebab hilangnya barakah, sebagaimana diriwayatkan dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Penjual dan pembeli melakukan khiyar (pilih barang dan tawar menawar) selagi mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat) maka diberkahi keduanya dan jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta maka dihapus keberkahannya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

5. Berpura-pura Fakir
Yaitu mengaku dirinya orang miskin dan butuh bantuan padahal sebenarnya kecukupan, dan dia meminta bantuan hanya sekedar untuk memperbanyak atau menumpuk harta benda. Diriwa-yatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barang-siapa yang meminta-minta harta benda kepada orang lain untuk memperbanyak kepemilikannya, maka sesungguhnya dia sedang meminta bara api." (Tarikh Dimasyq 14/373, Al-Mustathraf 2/15)

6. Menyembunyikan Aib Pelamar atau Wanita yang Dilamar
Yakni masing-masing dari pelamar atau wanita yang sedang dilamar menutup-nutupi kekurangannya baik dalam masalah fisik atau akhlaknya. Masing-masing hanya menonjolkan kebaikan dan kelebihannya saja, serta berlebih-lebihan di dalam memberi pujian, padahal ini dapat menghilangkan berkah pernikahan.

Sumber: Artikel Buletin An-Nur

Senin, 20 Februari 2012

Serial Hadits Arba'in Tentang Keutamaan Jihad dan Ribath bagian 8 (Terakhir)

الحديث السادس والثلاثون
Hadis Ketiga Puluh Enam

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَافِرُوا تَصِحُّوا وَاغْزُوا تَسْتَغْنُوا [رواه الإمام أحمد، ورجاله ثقات[

Dari Abu Hurairah, bahwasannya nabi saw bersabda; Bersafarlah niscaya kalian akan sehat, dan berperanglah niscaya kau akan berkecukupan (HR Imam Ahmad, rijalnya tsiqah)

الحديث السابع والثلاثون
Hadis ketigah puluh tujuh

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ الْبَاهِلِيّ رضي الله عَنْهُ قَالَ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِى فِى السِّيَاحَةِ. قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم إِنَّ سِيَاحَةَ أُمَّتِى الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى [رواه أبو داوود والبيهقي والحاكم وقال: صحيح الإسناد[

Dari Abu Umamah al-Bahili, ia berkata; bahwasannya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulllah; Wahai Rasulullah saw, izinkanlah aku untuk mengikuti siyahah (wisata), Nabi saw berkata saw Sesungguhnya siyahah (wisatanya) umatku adalah berjihad fi sabilillah (HR Abu Dawud, al-Baihaqi, dan al-Hakim. Hakim berkata; hadis ini shahih al-Isnad)

الحديث الثامن والثلاثون
Hadis Ketiga Puluh Delapan

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ [رواه الترمذي وصححه، والحاكم وقال: صحيح على شرط مسلم[

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata; Rasulullah saw bersabda; ada tiga golongan atas Allah dan pertolongan kepada mereka, mujahid fi sabilillah, budak yang memerdekakan diri dengan mencicil harganya yang ingin melunasi cicilannya, dan orang menikah karena ingin menjaga kesucian (HR at-Tirmidzi, dan dia menyatakan keshahihannya, dan juga diriwayatkan oleh al-hakim dan ia berkata; hadis ini shahih mengikuti syarat Muskim)

الحديث التاسع والثلاثون
Hadis Ketiga Puluh Sembilan

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاهِدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنَّ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يُنَجِّي اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهِ مِنْ الْهَمِّ وَالْغَمِّ [رواه الطبراني والحاكم وقال: صحيح الإسناد[

Dari Ubadah bin shamit, ia berkata; Rasulullah saw bersabda; Berjihadlah kalian di jalan Allah, karena sesungguhnya juhad fi sabilillah adalah salah satu pintu di antara pintu-pintu sorga, Allah akan menyelamatkan hamba-Nya dari ketakutan dan kekhawatiran (HR ath-Thabrani dan al-Hakim, dan al-Hakim mengatakan, hadis ini shahih al-Isnad)

الحديث الأربعون
Hadis Keempat Puluh

عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقْرَبُ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ لاَ يُقَارِبُهُ شَيْءٌ. [رواه البخاري في تاريخه[

Dari Fadlalah bin Ubaid ra, bahwa rasulullah saw bersabda; amal yang paling dekat kepada Allah adalah jihad fi sabilillah, tidak ada sesuatu pun yang mendekatinya (HR al-Bukhari di dalam kitab at-Tarikh)

Catatan hadis ini;
[At-Tarikh al-Kabir (4:152), dinyatakan dla’if oleh Syaikh al-Albani di dalam kitab Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu, no (1171). Menurutku, semua rijalnya tsiqat kecuali Utsman bin Shalih as-Sahmi, dia adalah salah seorang guru imam al-Bukhari. Utsman ini diperdebatkan oleh para ahli, Abu Hatim mengatakan, dia Syaikh. Tetapi Ahmad bin Shalih al-Mishri menyatakan dengan ungkapan layyin. Lihat Tahdzib al-Kamal 19:393 dan Mizan 3:436. ]

الحديث الحادي والأربعون
Hadis keempat puluh satu

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ [كُنْتُ مَعَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فِى سَفَرٍ فَأَصْبَحْتُ يَوْمًا قَرِيبًا مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ فَـ]قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِى مِنَ النَّارِ. قَالَ لَقَدْ سَأَلْتَنِى عَنْ عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ [المكتوبة] وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ [المفروضة] وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ. ثُمَّ قَالَ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ. قَالَ ثُمَّ تَلاَ (تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ) حَتَّى بَلَغَ (يَعْمَلُونَ) ثُمَّ قَالَ أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ . قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ . ثُمَّ قَالَ أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ. قُلْتُ بَلَى يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ [رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح[

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: [Aku pernah bersama Nabi saw di dalam suatu perjalanan, lalu pada suatu hari aku menjadi sangat dekat dengan beliau ketika kami sedang berjalan, lalu] aku bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahulah aku suatu amal yang dapat memasukan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka”. Nabi menjawab, “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, namun sesungguhnya itu adalah mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala. Hendaknya engkau beribadah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan sholat [fardlu], mengeluarkan zakat [fardlu] , melakukan shaum pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah.” Kemudian beliau bersabda. “Inginkah engkau kuberi petunjuk tentang pintu-pintu kebaikan? Shaum itu adalah perisai dan sedekah itu memadamkan kesalahan, sebagaimana air memadamkan api, lalu lakukanlah shalat di tengah malam.” Kemudian beliau membaca ayat, Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya……yang telah mereka kerjakan, (As-Sajdah 16-17). Kemudian beliau bersabda kembali, “Maukah bila aku beritahukan kepadamu pokok dan tiang serta puncak segala urusan?”. Aku menjawab, “Tentu, Wahai Rasulullah.” Rasulullah saw bersabda, “Pokok urusan adalah Islam (masuk Islam dengan syahadat), tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad.” Kemudian beliau bersabda, “Maukah kuberitahukan tentang kendali bagi semua itu?” Saya menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” maka Beliau memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini.” Aku berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah kami akan dituntut (disiksa) karena apa yang kami ucapkan?” Beliau bersabda, “Waduh, kau ini, hai Mu’adz!. Tidaklah ada yang menjerumuskan orang di atas wajahnya (atau sabdanya, di atas batang hidungnya) ke dalam neraka, tidak lain adalah ucapan lidah mereka?”. (HR At-Tirmidzi dan dia berkata : Hadits hasan shahih)

Serial Hadits Arba'in Tentang Keutamaan Jihad dan Ribath bagian 7

الحديث الحادي والثلاثون
Hadis Ketiga Puluh Satu

عن أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الأَرْضِ مِنْ شَىْءٍ غَيْرُ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ [رواه البخاري ومسلم[

Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi saw, beliau bersabda, Tidaklah seseorang yang masuk sorga suka untuk kembali ke dunia dengan segala yang dimilikinya di dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia menginginkan untuk dikembaklikan ke dunia untuk bisa terbunuh sepuluh kali, ketika mereka melihat betapa besar kemuliaannya (mati syahid)” [HR.al-Bukhari dan Muslim]

الحديث الثاني والثلاثون
Hadis Ketiga Puluh Dua

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ [رواه البخاري ومسلم[

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulllah saw bersabda; Barang siapa memberikan nafkah untuk dua istri dijalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan. Barangsiapa berasal dari golongan orang-orang yang senantiasa mendirikan salat, maka dia akan dipanggil dari pintu salat, yang berasal dari kalangan yang suka berjihad, maka akan dipanggil dari pintu jihad, demikian juga dengan golongan yang berpuasa akan dipanggil dari pintu Rayyan, yang suka bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah. Abu Bakar bertanya Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah apakah setiap hamba akan dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Lalu mungkinkah seseorang dipanggil dari seluruh pintu tersebut? Beliau menjawab, Ya, ada dan aku berharap engkau termasuk salah seorang diantara mereka (HR al-Bukhari dan Muslim)

الحديث الثالث والثلاثون
Hadis Ketiga Puluh Tiga

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ بِنَاقَةٍ مَخْطُومَةٍ فَقَالَ هَذِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَبْعُمِائَةِ نَاقِةٍ كُلُّهَا مَخْطُومَةٌ [رواه مسلم[

Dari Abu Mas’ud al-Anshari, ia berkata; Ada seseorang datang dengan membawa seekor onta yang terikat tali di hidungnya, Lalu ia berkata: Ini (untuk berjihad) fi sabilillah! Maka Rasulullah saw berkata: (Sebagai balasannya) di hari kiamat nanti bagimu 700 ekor unta semuanya dengan bertali di hidungnya. (HR Muslim)

الحديث الرابع والثلاثون
Hadis Ketiga Puluh Empat

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ الْغَزْوُ غَزْوَانِ فَأَمَّا مَنِ ابْتَغَى وَجْهَ اللَّهِ وَأَطَاعَ الإِمَامَ وَأَنْفَقَ الْكَرِيمَةَ وَيَاسَرَ الشَّرِيكَ وَاجْتَنَبَ الْفَسَادَ فَإِنَّ نَوْمَهُ وَنُبْهَهُ أَجْرٌ كُلُّهُ وَأَمَّا مَنْ غَزَا فَخْراً وَرِيَاءً وَسُمْعَةً وَعَصَى الإِمَامَ وَأَفْسَدَ فِى الأَرْضِ فَإِنَّهُ لَمْ يَرْجِعْ بِالْكَفَافِ [رواه الإمام أحمد وأبو داوود وغيرهم، والحاكم وقال: صحيح[

Dari Mu’adz bin Jabal, dari Rasulullah saw, bahwa beliau telah bersabda; “Perang itu ada dua. Barangsiapa yang (berperang) mencari wajah (dengan keridloan) Allah, mentaati Imam, menginfakkan harta pilihan, memudahkan kawan, menjauhi perbuatan merusak, maka sesungguhnya tidur dan jaganya semuanya membuahkan pahala. Adapun orang yang berperang karena kesombongan, riya dan mencari kemasyuran, dan durhaka terhadap Imam serta membuat kerusakan dibumi maka sesungguhnya ia tidak akan kembali dengan rezeki yang cukup.” (HR Imam Ahmad, Abu Daud, dan lain-lain. Al-Hakim mengatakan ini hadis shahih)

الحديث الخامس والثلاثون
Hadis Ketiga Puluh Lima

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه [يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ] الشُّهَدَاءُ أَرْبَعَةٌ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ جَيِّدُ الإِيمَانِ لَقِىَ الْعَدُوَّ فَصَدَقَ اللَّهَ حَتَّى قُتِلَ فَذَلِكَ الَّذِى يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ أَعْيُنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ هَكَذَا. وَرَفَعَ رَأْسَهُ حَتَّى وَقَعَتْ قَلَنْسُوَتُهُ. قَالَ فَلاَ أَدْرِى أَقَلَنْسُوَةَ عُمَرَ أَرَادَ أَمْ قَلَنْسُوَةَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ وَرَجُلٌ مُؤْمِنٌ جَيِّدُ الإِيمَانِ لَقِىَ الْعَدُوَّ فَكَأَنَّمَا ضُرِبَ جِلْدُهُ بِشَوْكِ طَلْحٍ مِنَ الْجُبْنِ أَتَاهُ سَهْمٌ غَرْبٌ فَقَتَلَهُ فَهُوَ فِى الدَّرَجَةِ الثَّانِيَةِ وَرَجُلٌ مُؤْمِنٌ خَلَطَ عَمَلاً صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا لَقِىَ الْعَدُوَّ فَصَدَقَ اللَّهَ حَتَّى قُتِلَ فَذَلِكَ فِى الدَّرَجَةِ الثَّالِثَةِ وَرَجُلٌ مُؤْمِنٌ أَسْرَفَ عَلَى نَفْسِهِ لَقِىَ الْعَدُوَّ فَصَدَقَ اللَّهَ حَتَّى قُتِلَ فَذَلِكَ فِى الدَّرَجَةِ الرَّابِعَةِ [رواه الإمام أحمد والترمذي، وهو حديث حسن[

Dari Amirul mukminin, Umar bin al-Khaththab, ra [ia berkata; Aku mendengar Rasulullah saw bersabda;] Syahid itu ada empat macam, seorang mukmin yang baik imannya ia bertemu musuh maka ia membenarkan (janji) Allah (terhadap syuhada’) sehingga ia terbunuh, maka itulah yang yang akan dipandang oleh mata manusia dengan mendongak pada hari kiamat, seraya mendongakkan kepalanya sehingga pecinya terjatuh, (rawi hadis setelah Umar) berkata; Aku tidak tahu apakah (yang jatuh itu) peci Umar atau peci Nabi saw. Ia (Umar) berkata, dan lelaki mukmin yang baik imannya bertemu musuh seolah-olah kulitnya seperti duri pohon karena takut, lalu terkena anak panah sehingga ia terbunuh, maka ia ada di tingkatan kedua. Dan seorang lelaki mukmin yang bercampur antara amal shalih dengan amal buruk, ia bertemu musuh lalu ia membenarkan (jaji) Allah (kepada Syuhada’) sehingga ia terbunuh, maka ia berada di tingkat ketiga. Dan seroang lelaki mukmin yang berlaku israf terhadap dirinya sendiri, ia bertemu musuh hingga terbunuh maka ia berada pada tingkatan keempat (HR Imam Ahmad dan at-Tirmidzi, ia menyatakan hadis ini adalah hadis hasan)

Serial Hadits Arba'in Tentang Keutamaan Jihad dan Ribath bagian 6

الحديث السادس والعشرون
Hadis Kedua Puluh Enam

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَاعَدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا [رواه البخاري في كتاب الجهاد[

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata; Nabi saw bersabda; Barangsiapa berpuasa sehari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh kharif (tahu).” [HR al-Bukhari].

الحديث السابع والعشرون
Hadis Kedua Puluh Tujuh

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ اْلأَنْصَارِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ « وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ » أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ [رواه مسلم[

Dari Uqbah bin Amir al-Anshari, ra ia bekata; Aku mendengar Rasulullah saw, ketika itu beliau ada di atas mimbar, bersabda, “Dan persiapkanlah olehmu (untuk menghadapi musuh) apa saja yang kamu mampu dari kekuatan…ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar (memanah), ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah [HR Muslim].

الحديث الثامن والعشرون
Hadis Kedua Puluh Delapan

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا مِنْ غَازِيَةٍ أَوْ سَرِيَّةٍ تَغْزُو فِي سَبِيْلِ اللهِ فَتَغْنَمُ وَتَسْلَمُ إِلاَّ كَانُوا قَدْ تَعَجَّلُوا ثُلُثَىْ أُجُورِهِمْ وَمَا مِنْ غَازِيَةٍ أَوْ سَرِيَّةٍ تُخْفِقُ وَتُصَابُ إِلاَّ تَمَّ أُجُورُهُمْ. [رواه مسلم[

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata; Rasulullah saw bersabda; Tidak ada seorang pun yang berjihad di jalan Allah kemudian mendapatkan ghanimah melainkan telah menyegerakan dua pertiga pahala mereka, dan tidaklah seseorang berperang lalu ia gagal (mendapatkan ghanimah) dan tertimpa musibah melainkan ia mendapatkan pahala yang sempurna. (HR Muslim)

الحديث التاسع والعشرون
Hadis Kedua Puluh Sembilan

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لاَ يَجْتَمِعُ كَافِرٌ وَقَاتِلُهُ فِى النَّارِ أَبَدًا [رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda; orang kafir dengan orang yang memeranginya tidak akan bertemu di dalam neraka selama-lamanya (HR Muslim)

الحديث الثلاثون
Hadis ketigapuluh

[عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ سَأَلْنَا] عَبْدَ اللَّهِ بن مسود رضي الله عنه عَنْ هَذِهِ الآيَةِ (وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ) قَالَ أَمَا إِنَّا قَدْ سَأَلْنَا عَنْ ذَلِكَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرْوَاحُهُمْ فِى جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ تَأْوِى إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ فَاطَّلَعَ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمُ اطِّلاَعَةً فَقَالَ هَلْ تَشْتَهُونَ شَيْئًا قَالُوا أَىَّ شَىْءٍ نَشْتَهِى وَنَحْنُ نَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شِئْنَا فَفَعَلَ ذَلِكَ بِهِمْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَلَمَّا رَأَوْا أَنَّهُمْ لَنْ يُتْرَكُوا مِنْ أَنْ يُسْأَلُوا قَالُوا يَا رَبِّ نُرِيدُ أَنْ تَرُدَّ أَرْوَاحَنَا فِى أَجْسَادِنَا حَتَّى نُقْتَلَ فِى سَبِيلِكَ مَرَّةً أُخْرَى. فَلَمَّا رَأَى أَنْ لَيْسَ لَهُمْ حَاجَةٌ تُرِكُوا [رواه مسلم[

Dari [Masruq ia berkata, kami bertanya kepada] Abdullah bin Mas’ud ra, tentang ayat ini, “Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu tetap hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki” [Ali Imran:169] (Abdullah) menjawab, adapun kami tanyakan hal itu kepada Rasulullah saw, lalu beliau menjawab; Ruh-ruh mereka berada di tengah-tengah burung hijau, dan memiliki lampu pelita yg tergantung di Arsy. Ruh itu bebas bebas terbang ke manapun yang dia sukai, kemudian kembali ke pelita-pelita tersebut. Tuhan mereka mendatangi mereka dan bertanya, “Apakah kalian menginginkan sesuatu?” “Apalagi yang kami inginkan, sedangkan kami bebas terbang dalam surga sesuka kami?” jawab mereka. Allah menanyakan hal tersebut terhadap mereka sampai tiga kali, hingga ketika mereka merasa bahwa mereka tidak akan dilepaskan daripada ditanya, maka menjawablah mereka, “Wahai Rabb kami, kami ingin Engkau kembalikan ruh-ruh kami pada jasad-jasad kami sehingga kami dapat terbunuh lagi di jalan-Mu.” Tatkala Allah melihat bahwa mereka sudah tidak memiliki hajat, maka ditinggalkanlah mereka” [HR.Muslim]

Serial Hadits Arba'in Tentang Keutamaan Jihad dan Ribath bagian 5

الحديث الحادي والعشرون
Hadis Kedua Puluh Satu

عَنْ عُرْوَةَ الْبَارِقِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْخَيْلُ مَعْقُودٌ فِى نَوَاصِيهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ [رواه البخاري ومسلم[

Dari Urwah al-Bariqiy , ia berkata; Rasulullah saw bersabda; Pada ubun-ubun kuda itu terikat kebaikan sehingga ke Hari Kiamat (HR al-Bukhari dan Muslim)

الحديث الثاني والعشرون
Hadis Kedua Puluh Dua

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِىِّ قَالَ إِنَّ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَهُ غَازِيًا فِى أَهْلِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا [رواه البخاري ومسلم[

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani , ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mempersiapkan orang yang berperang di jalan Allah maka ia telah ikut berperang, dan barangsiapa menggantikan orang yang berperang di dalam [memperhatikan kebutuhan] keluarganya dengan kebaikan maka ia telah ikut berperang”. (HR al-Bukhari dan Muslim)

الحديث الثالث والعشرون
Hadis Kedua Puluh Tiga

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا [وَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ مِنْ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا] عَلَيْهَا وَالرَّوْحَةُ يَرُوحُهَا الْعَبْدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْغَدْوَةُ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا [رواه البخاري[

Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi, bahwasannya Rasulullah saw bersabda; berjaga-jaga di perbatasan (ribath) sehari di jalan Allah lebih baik dari pada dunia dan seisinya [dan tempat seorang dari kalian di sorga sebesar cemeti lebih baik dari dunia dan seisinya] dan perjalanan seorang hamba di pagi hari atau perjalanan hamba di sore hari fi sabilillah lebih baik daipada dunia dan seisinya (HR al-Bukhari)

الحديث الرابع والعشرون
Hadis Kedua Puluh Empat

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِى كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِىَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ ». [رواه مسلم[

Dari Salman al-Farisi ra, ia berkata; Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, berjaga-jaga sehari atau semalam (di medan jihad) lebih baik dari pada berpuasa beserta qiyamullailnya selama sebulan penuh, dan jika ia mati amalnya yang ia lakukan akan terus mengalir kepadanya, dan akan dialirkan rizki kepadanya dan ia aman (selamat) dari fitnah (HR Muslim)

الحديث الخامس والعشرون
Hadis Kedua Puluh Lima

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ احْتَبَسَ فَرَسًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِيمَانًا بِاللَّهِ وَتَصْدِيقًا بِوَعْدِهِ فَإِنَّ شِبَعَهُ وَرِيَّهُ وَرَوْثَهُ وَبَوْلَهُ فِي مِيزَانِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ [روا البخاري[

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata; Nabi saw bersabda; Barangsiapa yang mewakafkan kuda (untuk perjuangan) di jalan Allah karena iman kepada-Nya dan membenarkan janji-Nya, maka kenyangnya kuda itu, kotoran, dan kencingnya, berada di dalam timbangannya pada hari kiamat. (HR al-Bukhari)

Serial Hadits Arba'in Tentang Keutamaan Jihad dan Ribath bagian 4

الحديث السادس عشر
Hadis Keenambelas

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بُسَيْسَةَ عَيْنًا يَنْظُرُ مَا صَنَعَتْ عِيرُ أَبِى سُفْيَانَ فَجَاءَ وَمَا فِى الْبَيْتِ أَحَدٌ غَيْرِى وَغَيْرُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لاَ أَدْرِى مَا اسْتَثْنَى بَعْضَ نِسَائِهِ قَالَ فَحَدَّثَهُ الْحَدِيثَ قَالَ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَتَكَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ لَنَا طَلِبَةً فَمَنْ كَانَ ظَهْرُهُ حَاضِرًا فَلْيَرْكَبْ مَعَنَا . فَجَعَلَ رِجَالٌ يَسْتَأْذِنُونَهُ فِى ظُهْرَانِهِمْ فِى عُلْوِ الْمَدِينَةِ فَقَالَ لاَ إِلاَّ مَنْ كَانَ ظَهْرُهُ حَاضِرًا . فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابُهُ حَتَّى سَبَقُوا الْمُشْرِكِينَ إِلَى بَدْرٍ وَجَاءَ الْمُشْرِكُونَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ يُقَدِّمَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِلَى شَىْءٍ حَتَّى أَكُونَ أَنَا دُونَهُ . فَدَنَا الْمُشْرِكُونَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قُومُوا إِلَى جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ . قَالَ يَقُولُ عُمَيْرُ بْنُ الْحُمَامِ الأَنْصَارِىُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَنَّةٌ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ قَالَ نَعَمْ . قَالَ بَخٍ بَخٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا يَحْمِلُكَ عَلَى قَوْلِكَ بَخٍ بَخٍ . قَالَ لاَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلاَّ رَجَاءَةَ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا. قَالَ فَإِنَّكَ مِنْ أَهْلِهَا . فَأَخْرَجَ تَمَرَاتٍ مِنْ قَرْنِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ مِنْهُنَّ ثُمَّ قَالَ لَئِنْ أَنَا حَيِيتُ حَتَّى آكُلَ تَمَرَاتِى هَذِهِ إِنَّهَا لَحَيَاةٌ طَوِيلَةٌ قَالَ فَرَمَى بِمَا كَانَ مَعَهُ مِنَ التَّمْرِ. ثُمَّ قَاتَلَهُمْ حَتَّى قُتِلَ. [رواه مسلم

Dari Anas bin Malik , ia berkata: Rasulullah saw menugaskan Busaisah sebagai mata-matai utuk mengawasi apa yang dilakukan oleh kafilah Abu Sufyan. Ketika Busaisah datang (untuk melapor) di rumah tidak ada seorang pun selain aku dan Rasulullah saw, aku tidak tahu barangkali terkecualikan (ada) sebagian isteri beliau (di rumah). Lalu Busaisah menyampaikan laporannya. Anas berkata: Kemudian Rasulullah keluar dan bersabda: “Sesungguhnya kita mempunyai satu tujuan, siapa yang telah siap kendaraannya, berangkatlah bersama-sama kami” Seorang laki-laki minta izin kepada baginda hendak mengambil kenderaannya di luar kota. Beliau bersabda: “Tidak usah, cukup orang-orang yang kendaraannya telah siap saja!” Maka berangkatlah Rasulullah saw berserta para sahabatnya sehingga mereka lebih dahulu tiba di Badr dari pada kaum musyrikin. Setelah kaum musyrikin tiba, Rasulullah saw bersabda, “Kalian tidak boleh bertindak sebelum ada perintah daripadaku!” Setelah kaum musyrikin tembah dekat maka bersabda baginda, “Majulah kalian ke syurga yang lebarnya selebar langit dan bertanya, “Ya, Rasulullah!bumi!” Lalu Umair bin al-Humam al-Anshari Syurga lebarnya selebar langit dan bumi?” Jawab nabi, “Ya”. Umair berkata, “Wah, wah!” Rasulullah saw bertanya, “Apa yang membuatmu mengatakan wah, wah?” Jawab Umair, “Tidak, demi Allah, ya Rasulullah, Aku hanya berharap semoga aku menjadi penghuninya.” Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya!” Kemudian Umair mengeluarkan kurma dari kantong perbekalannya lalu ia memakannya sebagian. Sesudah itu dia berkata, “Seandainya aku masih hidup sehingga aku bisa menghabiskan kurmaku ini, sungguh suatu kehidupan (dunia) yang panjang.” Anas berkata, Lalu Umair melemparkannya kurma yang masih tersisa di tangannya lalu dia maju bertempur melawan musuh sehingga dia tewas terbunuh.” (HR Muslim)

الحديث السابع عشر
Hadis Ketujuhbelas

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى أَوْفَى رضي الله عنه [فَكَتَبَ إِلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ حِينَ سَارَ إِلَى الْحَرُورِيَّةِ يُخْبِرُهُ] أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِى بَعْضِ أَيَّامِهِ الَّتِى لَقِىَ فِيهَا الْعَدُوَّ انْتَظَرَ حَتَّى إِذَا مَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ قَامَ فِي النَّاسِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوفِ. ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِىَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ ]رواه البخاري ومسلم[

Dari ‘Abdullah bin Abi Aufa, [bahwa ia menulis surat kepada 'Umar bin 'Ubaidillah ketika akan berangkat memerangi kaum Haruriyah, ia mengabarkan kepadanya] bahwa Rasulullah pada suatu hari ketika bertemu dengan musuh, beliau menunggu hingga apabila matahari telah condong beliau berbicara di di depan manusia (para shahabat), lalu bersabda, “Wahai manusia, janganlah mengharap bertemu musuh, mintalah kekuatan kepada Allah. Apabila kalian bertemu musuh, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa Surga berada di bawah naungan pedang.” Kemudian nabi saw bersabda, “Ya Allah, yang telah menurunkan kitab, menjalankan awan, hancurkanlah persekutuan (musuh), kalahkanlah mereka dan berilah pertolongan kepada kami dalam melawan mereka (HR Bukhari dan Muslim).

الحديث الثامن عشر
Hadis Kedelapanbelas

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ [رواه مسلم[

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda; barangsiapa mati padahal ia belum pernah berperang, dan tidak pernah terlintas di benaknya keinginan untuk berperang maka ia mati di atas salah satu cabang kemunafikan (HR Muslim)

الحديث التاسع عشر
Hadis Kesembilanbelas

عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ الْحُصَيْبِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حُرْمَةُ نِسَاءِ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ كَحُرْمَةِ أُمَّهَاتِهِمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ مِنَ الْقَاعِدِينَ يَخْلُفُ رَجُلاً مِنَ الْمُجَاهِدِينَ فى أَهْلِهِ فَيَخُونُهُ فِيهِمْ إِلاَّ وُقِفَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَأْخُذُ مِنْ عَمَلِهِ مَا شَاءَ [ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ فَمَا ظَنُّكُمْ. وَرَوَاهُ عَلْقَمَةُ بْنُ مُرْثِدٍ بِهَذَا اْلإِسْناَدِ وَقَالَ قِيْلَ لَهُ َخُذْ مِنْ حَسَنَاتِهِ مَا شِئْتَ. [رواه مسلم[

Dari Buraidah bin al-Hushaib , ia berkata; Rasulullah saw bersabda, kemuliaan isteri mujahidin atas orang yang duduk-duduk (tidak berjihad) seperti kemuliaan ibu mereka. Dan tidaklah seseorang di antara yang tidak berangkat berjihad, ia menggantikan seorang mujahid (dalam memberikan nafkah) kepada keluarganya lalu ia berkhianat kepadanya dalam keluarganya melainkan pada hari kiamat ia akan berdiri di hadapan mujahid lalu ia mengambil amal penggantinya itu sekehendaknya. [Kemudian Rasulullah saw berpaling ke arah kami, dan bersabda, “Apa pendapat kalian?”] Dan diriwayatkan juga oleh Alqamah bin Murtsid dengan sanad ini, ia berkata, dikatakan kepadanya (Mujahid): Ambillah kebaikan-kebaikannya sesukamu” (HR Muslim)

الحديث العشرون
Hadis keduapuluh

عَنْ أَبِي عَبْسٍ [هُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ جَبْرٍ] رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اغْبَرَّتْ قَدَمَا عَبْدٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَمَسَّهُ النَّارُ [رواه البخاري وغيره[

Dari Abu ‘Abs, yaitu Abdurrahman bin Jabr Rasulullah saw bersabda; tidaklah kedua telapak kaki seorang hamba berdebu di jalan Allah lalu ia tersentuh oleh api neraka (HR al-Bukhari dan lainnya)

Serial Hadits Arba'in Tentang Keutamaan Jihad dan Ribath bagian 3

الحديث الحادي عشر
Hadis Kesebelas

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ قَالُوا ثُمَّ مَنْ قَالَ مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللَّهَ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ [ رواه البخاري ومسلم.[
Dari Abu Said al-Khudlri ra , ia berkata, Rasulullah ditanya, ‘Manusia seperti apakah yang paling utama ya Rasulullah?’, Beliau menjawab, “Mu’min yang berjihad dengan jiwanya dan hartanya.” Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, “Seseorang mukmin yang ada di jalan menuju celah bukit ia bertaqwa kepada Allah dan meninggalkan manusia karena keburukannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

الحديث الثاني عشر
Hadis Keduabelas

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ مِنْ خَيْرِ مَعَاشِ النَّاسِ لَهُمْ رَجُلٌ مُمْسِكٌ عِنَانَ فَرَسِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ يَطِيرُ عَلَى مَتْنِهِ كُلَّمَا سَمِعَ هَيْعَةً أَوْ فَزْعَةً طَارَ عَلَيْهِ يَبْتَغِى الْقَتْلَ وَالْمَوْتَ مَظَانَّهُ أَوْ رَجُلٌ فِى غُنَيْمَةٍ فِى رَأْسِ شَعَفَةٍ مِنْ هَذِهِ الشَّعَفِ أَوْ بَطْنِ وَادٍ مِنْ هَذِهِ الأَوْدِيَةِ يُقِيمُ الصَّلاَةَ وَيُؤْتِى الزَّكَاةَ وَيَعْبُدُ رَبَّهُ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْيَقِينُ لَيْسَ مِنَ النَّاسِ إِلاَّ فِى خَيْرٍ. [رواه مسلم[
Dari Abu Hurairah , ia berkata, Rasulullah , bersabda. Di antara bentuk sebaik-baik keadaan hidup manusia ialah seseorang yang memegang kendali kudanya untuk melakukan peperangan fi-sabilillah, ia menunggang kuda di atas punggungnya. Setiap kali ia mendengar suara gemuruh atau suara dahsyat di medan peperangan itu, ia segera terbang ke sana untuk mencari pembunuhan dan kematian yang disangkanya bahwa di sanalah tempatnya (kematian). Atau seseorang yang memelihara kambing di puncak gunung dari beberapa puncak gunung yang ada, ataupun di suatu lembah dari beberapa lembah ini. la mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta menyembah Tuhannya sehingga keyakinan (kematian) mendatanginya. Tidak ada sesuatu pada manusia tersebut kecuali dalam kebaikan.” (Riwayat Muslim)
الحديث الثالث عشر
Hadis ketigabelas

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَشْعَثَ رَأْسُهُ مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ إِنْ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ [رواه البخاري[
Dari Abu Hurairah . Dari Nabi Saw bersabda: “Celakalah hamba dinar, dirham, kain beludru dan pakaian sutera. Jika diberi ia rela dan jika tidak diberi ia murka. Dia amat rugi dan jatuh menjungkir. Jika ia tertusuk duri ia tidak dapat mencabutnya. Beruntunglah bagi hamba yang mengambil tali kekang kudanya untuk berjuang di jalan Allah, kusut rambutnya dan kedua kakinya berdebu. Jika ia berada di bagian pertahanan dia senantiasa ditempat itu. Dan jika dia berada bagian depan dia senantiasa ditempat itu. Jika dia meminta ijin dia tidak diizinkan dan jika dia meminta syafat (bantuan) dia tidak mendapat bantuan.” (HR. Bukhari)
الحديث الرابع عشر
Hadis Keempatbelas

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم تَضَمَّنَ اللَّهُ لِمَنْ خَرَجَ فِى سَبِيلِهِ لاَ يُخْرِجُهُ إِلاَّ جِهَادًا فِى سَبِيلِى وَإِيمَانًا بِى وَتَصْدِيقًا بِرُسُلِى فَهُوَ عَلَىَّ ضَامِنٌ أَنْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ أَرْجِعَهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِى خَرَجَ مِنْهُ نَائِلاً مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ. وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا مِنْ كَلْمٍ يُكْلَمُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَهَيْئَتِهِ حِينَ كُلِمَ لَوْنُهُ لَوْنُ دَمٍ وَرِيحُهُ مِسْكٌ وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْلاَ أَنْ يَشُقَّ عَلَى الْمُسْلِمِينَ مَا قَعَدْتُ خِلاَفَ سَرِيَّةٍ تَغْزُو فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَبَدًا وَلَكِنْ لاَ أَجِدُ سَعَةً فَأَحْمِلَهُمْ وَلاَ يَجِدُونَ سَعَةً وَيَشُقُّ عَلَيْهِمْ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنِّى وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّى أَغْزُو فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُو فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُو فَأُقْتَلُ . [رواه مسلم[
Dari Abu Hurairah berkata. Rasulullah saw bersabda;: Allah menjamin orang yang keluar di jalan-Nya yang tidak didorong kecuali karena untuk berjihad di jalan-Ku, beriman dengan-Ku serta percaya kepada rasul-rasul-Ku. Maka ia Aku jamin, untuk Aku masukkan ke dalam surga atau Aku pulangkan kembali ke rumahnya tempat ia berangkat dengan memperoleh pahala atau ghanimah (harta rampasan). Demi Tuhan Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada satu luka pun yang terjadi di jalan Allah kecuali pada hari kiamat akan tampak dalam keadaannya semula ketika ia terluka, warnanya adalah warna darah tetapi baunya adalah bau minyak kasturi. Demi Tuhan Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, jika tidak memberatkan kaum muslimin, niscaya aku tidak akan pernah tinggal di belakang pasukan perang yang aku utus untuk berperang di jalan Allah. Tetapi aku tidak mendapatkan kendaraan lebih sehingga aku dapat menyertakan mereka dan mereka pun tidak mendapatkan kendaraan lebih padahal ada perasaan berat bagi mereka untuk tidak ikut serta bersamaku. Demi Tuhan Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Sesungguhnya aku sangat menginginkan untuk berperang di jalan Allah lalu terbunuh, kemudian berperang lagi dan terbunuh lagi, kemudian berperang lagi dan akhirnya terbunuh lagi (HR Muslim)
الحديث الخامس عشر
Hadis Kelimabelas

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الله النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رضي الله عنه قَالَ كُنْتُ عِنْدَ مِنْبَرِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ رَجُلٌ مَا أُبَالِى أَنْ لاَ أَعْمَلَ عَمَلاً بَعْدَ الإِسْلاَمِ إِلاَّ أَنْ أُسْقِىَ الْحَاجَّ. وَقَالَ آخَرُ مَا أُبَالِى أَنْ لاَ أَعْمَلَ عَمَلاً بَعْدَ الإِسْلاَمِ إِلاَّ أَنْ أَعْمُرَ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ. وَقَالَ آخَرُ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَفْضَلُ مِمَّا قُلْتُمْ. فَزَجَرَهُمْ عُمَرُ وَقَالَ لاَ تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ عِنْدَ مِنْبَرِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَلَكِنْ إِذَا صَلَّيْتُ الْجُمُعَةَ دَخَلْتُ فَاسْتَفْتَيْتُهُ فِيمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ. فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ) الآيَةَ إِلَى آخِرِهَا. [رواه مسلم[
Dari Abu Abdillah an-Nu’man bin Basyir , ia berkata, “Aku pernah berada di sisi mimbar Rasulullah SAW, lalu ada seseorang yang berkata, “Aku tak peduli, aku tidak akan melakukan pekerjaan apapun, sesudah (masuk) Islam kecuali memberi minum pada orang haji”. Lalu di jawab oleh yang lain, “Kalau aku tak peduli, aku tidak mengamalkan amalan apapaun setelah (masuk) Islam kecuali memakmurkan masjidil haram”. Lalu di sambut lagi oleh yang lain, ”berjihad di jalan Allah lebih utama dari semua amal yang kalian katakan itu,” Kemudian Umar bin Khattab melarang mereka, ia berkata “Kalian jangan berbicara keras di sisi mimbar Rasulullah saw”. Saat itu terjadi pada hari Jum’at. Sesudah selesai menunaikan sholat Jum’at, kami mendatangi Rasulullah dan menanyakan tentang apa yang kami perbincangkan, maka turunlah firman Allah swt. “Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang haji dan mengurus Masjidil Haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah dan Alah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim (at-Taubah;19) (HR Muslim)