Mutiara Hadits - 1

Dari Abu ‘Abs, yaitu Abdurrahman bin Jabr Rasulullah saw bersabda; tidaklah kedua telapak kaki seorang hamba berdebu di jalan Allah lalu ia tersentuh oleh api neraka (HR al-Bukhari dan lainnya).

Mutiara Hadits - 2

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiallohu 'anhu, Pelayan Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sallam, ia berkata; Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda, Sungguh pagi hari berangkat atau sore hari kembali dari berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Mutiara Hadits - 3

Dari Abu Hurairah , berkata; nabi  ditanya, Apakah amal yang paling utama? Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan rasulNya. Lalu ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah” Kemudian ditanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Mutiara Hadits - 4

Dari Ummul Mu’minin, Ummu Abdillah, A’isyah , berkata, wahai Rasulullah, kami melihat jihad adalah amal yang paling utama, mengapa kami tidak (dilibatkan dalam) berjihad? Beliau menjawab, “Tidak, tetapi jihad yang paling utama (bagi wanita) adalah hajji yang mabrur (HR al-Bukhari).

Mutiara Hadits - 5

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda; barangsiapa mati padahal ia belum pernah berperang, dan tidak pernah terlintas di benaknya keinginan untuk berperang maka ia mati di atas salah satu cabang kemunafikan (HR Muslim).

Senin, 20 Februari 2012

Serial Hadits Arba'in Tentang Keutamaan Jihad dan Ribath bagian 2

الحديث السادس
Hadis Keenam

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قِيلَ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ لاَ تَسْتَطِيعُونَهُ . [قَالَ فَأَعَادُوا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا كُلُّ ذَلِكَ يَقُولُ لاَ تَسْتَطِيعُونَهُ]. وَقَالَ فِى الثَّالِثَةِ مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللَّهِ لاَ يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلاَ صَلاَةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى [رواه البخاري ومسلم، والسياق له[
وَفِيْ رِوَايَةِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَبِيْ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَيْضًا: قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يَعْدِلُ الْجِهَادَ قَالَ لَا أَجِدُهُ قَالَ هَلْ تَسْتَطِيعُ إِذَا خَرَجَ الْمُجَاهِدُ أَنْ تَدْخُلَ مَسْجِدَكَ فَتَقُومَ وَلَا تَفْتُرَ وَتَصُومَ وَلَا تُفْطِرَ قَالَ وَمَنْ يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنَّ فَرَسَ الْمُجَاهِدِ لَيَسْتَنُّ فِي طِوَلِهِ فَيُكْتَبُ لَهُ حَسَنَاتٍ.

Dari Abu Hurairah . Berkata, Rasulullah . pernah ditanya, “Apakah yang menyamai jihad fie sabilillah? Jawab beliau: Kamu tidak mampu mengerjakannya. [Kemudian mereka mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali, semuanya dijawab oleh beliau: Kamu tidak akan mampu mengerjakannya] . Lalu beliau mengatakan: Perumpamaan Mujahid di jalan Allah itu seperti orang yang berpuasa, berdiri shalat, tetap membaca ayat-ayat Allah, dan ia tidak berbuka dari puasanya dan tidak berhenti dari shalatnya sehingga mujahid itu kembali.” (HR Bukhari, Muslim, Nasai, & Ibn Majah)

Di dalam riwayat al-Bukhari, juga dari Abu Hurairah , berkata; Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah  lalu bertanya, “Tunjukkan kepadaku pada suatu amal yang sepadan dengan jihad. Beliau menjawab, “Tidak saya temukan. Orang itu bertanya; Dan siapakah yang mampu melakukan itu, Abu Hurairah  berkata; Sesungguhnya kuda seorang mujahid yang berlari dengan melompat di dalam tali kendalinya dituliskan beberapa kebaikan baginya.



الحديث السابع
Hadis Ketujuh

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ [وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ] [رواه البخاري[

Dari Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda; Barangsiapa beriman kepada Allah dan RasulNya, mendirikan shalat, berpuasa bulan Ramadlan, maka ia berhak dimasukkan ke dalam sorga oleh Allah, baik berjihad di jalan Allah atau duduk saja di negerinya tempat ia dilahirkan. Para shahabat bertanya, Wahai Rasulullah, apakah tidak kita sampaikan kepada umat manusia? Beliau bersabda; Sesungguhnya di sorga ada 100 tingkat yang telah disediakan oleh Allah kepada mujahidin fi sabilillah, antara satu tingkat dengan tingkat yang lain seperti jarak antara langit dengan bumi, maka jika kalian memohon kepada Allah mohonlah sorga Firdaus, sorga itu terletak di tengah-tengah sorga dan paling tinggi, [Aku melihatnya] di atasnya adalah Arsy ar-Rahman (Allah), [dan dari sana memancar air sungai sorga] (HR al-Bukhari)

الحديث الثامن
Hadis Kedelapan

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ بْنِ سِنَان الْخُدْرِىِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ يَا أَبَا سَعِيدٍ مَنْ رَضِىَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ . فَعَجِبَ لَهَا أَبُو سَعِيدٍ فَقَالَ أَعِدْهَا عَلَىَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِى الْجَنَّةِ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ . قَالَ وَمَا هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ .[رواه مسلم[

Dari Abu Sa’id, Sa’d bin Malik bin Sinan al-Khudriy , bahwa Rasulullah  berkata, wahai Abu Sa’id, siapa yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai nabinya, dia pasti akan memperoleh surga. Abu Sa’id merasa takjub dan berkata, “Ulangi untukku, ya Rasulullah.” Beliau mengulanginya dan berkata, ”Dan dengan yang lainnya, seorang hamba diangkat derajatnya 100 tingkat di dalam surga, yang jarak antara dua tingkatnya seperti jarak langit dan bumi.” Kata Abu Sa’id , “Apakah itu, ya Rasulullah?” Beliau berkata, “Jihad di jalan Allah, jihad di jalan Allah.” (HR. Muslim)

الحديث التاسع
Hadis Kesembilan

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أم عبد الله عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ أَفَلَا نُجَاهِدُ قَالَ [لاَ] لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ [ رواه البخاري[

Dari Ummul Mu’minin, Ummu Abdillah, A’isyah , berkata, wahai Rasulullah, kami melihat jihad adalah amal yang paling utama, mengapa kami tidak (dilibatkan dalam) berjihad? Beliau menjawab, “Tidak, tetapi jihad yang paling utama (bagi wanita) adalah hajji yang mabrur (HR al-Bukhari)

الحديث العاشر
Hadis Kesepuluh

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا [رواه البخاري ومسلم[

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik , Pelayan Rasulullah , ia berkata; Rasulullah  bersabda, Sungguh pagi hari berangkat atau sore hari kembali dari berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya.” (al-Bukhari dan Muslim)

Serial Hadits Arba'in Tentang Keutamaan Jihad dan Ribath bagian 1

Berikut ini kami postingkan serial hadits arba'in tentang keutamaan jihad dan ribath karya Al- Allamah, al-Faqih al-Mujahid Abu al-Hasan Ali bin Muhammad Barakah al-Andalusi at-Tuthwani Wafat tahun 1120 H.
Sekedar membaca haditsnya saja akan mendorong semangat seorang muslim untuk turut serta dalam perjalanan yang mulia dan barakah bersama kafilah para syuhada, terlebih bagi orang yang berikan karunia kepadanya berupa pemahaman terhadap diin yang mulia ini. selamat mengikuti semoga bermanfaat.


الحديث الأول
Hadis pertama

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ قَيْسٍ: أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ فَمَنْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ . [رواه البخاري ومسلم[
Dari Abdullah bin Qais, Abu Musa  , berkata: Seorang lelaki mendatangi Nabi  lalu berkata; seorang yang berperang karena mencari ghanimah (harta rampasan perang), seorang yang berperang karena ingin dikenang, dan seorang yang berperang karena ingin dipandang kedudukannya, manakah yang di jalan Allah? Rasulullah  bersabda; Barangsiapa berperang untuk menjadikan kalimah (agama) Allah tinggi itulah yang di jalan Allah (HR al-Bukhari dan Muslim)
الحديث الثاني
Hadis Kedua

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ ، عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْر، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ [رواه مسلم[
Dari Abu Hurairah; Abdurrahman bin Shakhr , berkata; Aku mendengar Rasulullah  bersabda; Sesungguhnya manusia yang pertama-tama diadili pada hari kiamat kelak adalah seorang yang mati syahid.Dia akan dihadapkan pada nikmat-nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan itu semua?’ `Aku telah berperang demi Engkau, hingga aku mati syahid. (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau berperang agar disebut sebagai orang yang pemberani.’ Dan kau telah disebut sebagai pemberani Kemudian Allah memerintahkan (malaikat) untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al Qur’an. Dia didatangkan kemudian diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kau perbuat dengannya ?” Maka dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena-Mu.” Allah berfirman, ”Engkau dusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Qur’an supaya disebut sebagai Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”
Kemudian ada seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia didatangkan dan diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya?” Dia menjawab, “Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakkan harta di jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. (HR Muslim)
الحديث الثالث
Hadis Ketiga

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ، عَبْدِ اللهِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالاَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا [رواه البخاري ومسلم[
Dari Abu al-‘Abbas, Abdullah bin ‘Abbas , dan ummul Mukminin, Ummu Abdillah, Aisyah , mereka berkata; Rasulullah  bersabda; Tidak ada hijrah setelah penaklukan (fath), tetapi jihad dan niat, dan apabila kalian diminta untuk berperang maka berangkatlah berperang (HR al-Bukhari dan Muslim)
الحديث الرابع
Hadis Keempat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيْمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ [رواه البخاري و مسلم[.
Dari Abu Hurairah , berkata; nabi  ditanya, Apakah amal yang paling utama? Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan rasulNya. Lalu ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah” Kemudian ditanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur” (HR al-Bukhari dan Muslim)
الحديث الخامس
Hadis Kelima
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِى قَتَادَةَ عَنْ أَبِى قَتَادَةَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَامَ فِيهِمْ فَذَكَرَ لَهُمْ أَنَّ الْجِهَادَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالإِيمَانَ بِاللَّهِ أَفْضَلُ الأَعْمَالِ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ تُكَفَّرُ عَنِّى خَطَايَاىَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَعَمْ إِنْ قُتِلْتَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَيْفَ قُلْتَ قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّى خَطَايَاىَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَعَمْ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلاَّ الدَّيْنَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ لِى ذَلِكَ .[رواه مسلم[
Dari Abdillah bin Abu Qatadah, dari Abu Qutadah , bahwasannya ia telah mendengar ia menceritakan tentang Rasulullah , bahwasannya beliau telah berdiri di antara para shahabat kemudian menyebutkan, “Sesungguhnya Jihad fi Sabilillah dan Iman kepada Allah itu adalah amal-amal yang paling utama.” Maka berdirilah salah seorang shahabatn kemudian ia berkata: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu jika saya terbunuh fi sabilillah, apakah semua dosa-dosa saya terhapus?” kemudian Rasulullah  menjawab: “Ya, jika engkau terbunuh fi sabilillah sedangkan engkau sabar, semata-mata mencari pahala, maju terus, tidak mundur.” Kemudian Rasulullah  berkata: “Bagaimana tadi apa yang engkau katakan?” Ia bertanya: “Bagaimana pendapatmu jika saya terbunuh fi sabilillah, apakah semua kesalahan saya juga akan terhapus? Maka Rasulullah  menjawab: “Ya, apabila kamu bersabar, semata- mata mencari pahala, maju terus tidak mundur, kecuali hutang (tidak akan terhapus), karena sesungguhnya Jibril  mengatakan demikian kepadaku.” (HR Muslim).

Aqidah Jihad Kaum Muslimin [1]

Aqidah jihad kaum muslimin didasarkan pada lima prinsip yang harus diperhatikan betul oleh seorang muslim agar ia mengerti dasar permusuhan dirinya dengan orang-orang kafir serta tujuan jihad dan perang yang ia lakukan.

PRINSIP PE RTAMA : HIDUP UNTUK BERIBADAH

Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلا لِيَعْبُدُونِي
"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepadaKu."(QS. Adz Dzariyat : 56).
Ibadah adalah melaksanakan apa saja yang telah disyariatkan oleh Allah melalui lisan–lisan para RasulNya Alaihimusalam.
Tidak ada satupun umat dari makhluk Allah melainkan pasti Allah telah mengutus utusanNya kepada umat itu.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنْ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
"Dan kami benar–benar telah mengutus Rasul di setiap umat, agar kalian hanya beribadah kepada Allah dan menjauhi thagut”. (QS. An Nahl : 36)

وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلا خلا فِيهَا نَذِيرٌ
"Dan tidak ada satu pun melainkan telah ada kepadaNya seorang pemberi peringatan." (QS. Fathir : 24).

Demikianlah, agar hujjah Allah benar–benar tegak atas makhlukNya semenjak diciptakannya Adam hingga hari kiamat.
Allah SWT berfirman:
رُسُلا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
"Para Rasul itu pemberi kabar gembira dan peringatan agar manusia tidak lagi memiliki hujjah/alasan di hadapan Allah kelak, setelah (diutusnya) para Rasul." (QS. An Nisa : 165).
Rasul itu diutus dilingkungan umatnya yang asli yang hidup semasa dengannya. Kemudian para pengikutnya dari kalangan ahli ilmu menyampaikan risalahnya setelah kepergiannya.
وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا
"Dan tidaklah Robbmu menghancurkan suatu negeri hingga Dia mengutus di ibu kota yang disinggahi para pembesar yang diikuti para pendukungnya, seorang Rasul yang membacakan ayat–ayat kami kepada mereka." (QS. Al Qoshos : 59)
Kemudian setelah kematian Rasul itu, para pengikutnya membawa amanah untuk menyampaikan risalahNya, sehingga hujjah Allah atas makhlukNya tidak pernah terputus.
Nabi SAW bersabda:
ليبلغ الشـاهد منكم الغائب
"Agar orang–orang menyaksikan di antara kalian menyampaikan (apa yang ia saksikan/dengar) kepada yang qhoib (tidak hadir).”

بلغوا عني ولو آية
"Sampaikanlah apa saja yang datang dariku meskipun hanya satu ayat."

العلماء ورثة الأنبياء
"Ulama itu pewaris para Nabi."
لا تزال طائفة من أمتي قائـمة بأمر الله
"Akan ada sekelompok umatku yang tegak (melaksanakan) perintah Allah."
Hadis – hadis di atas semuanya shahih.
Perintah beribadah itu merupakan perintah yang syar'i, artinya Allah SWT mensyariatkannya melalui lisan para RasulNya. Perintah ini dinamakan Iradah Syar'iyyah Diiniyyah' (kehendak syara' yang bersifat keagamaan).
Namun demikian setiap makhluk tidak otomatis menjawab/melaksanakan perintah Allah itu.
Maka Allah SWT menciptakan makhlukNya agar beribadah kepadaNya, dan perintah itu melalui lisan para RasulNya.
Kemudian di antara makhluk itu sendiri ada yang mau beribadah kepadaNya dan kadang ada yang tidak mau beribadah kepadaNya.

Sumber: Ma’aalim Asasiyyah fil Jihad

Ayah! kenapa engkau tidak pergi berjihad?

seorang anak perempuan yang masih kecil berumur sekitar tujuh tahun datang kepada bapaknya, dia menanyakan suatu pertanyaan: "Wahai ayah kenapa engkau tidak pergi berjihad?" Ayah anak perempuan kecil ini terheran dengan pertanyaan itu, dan ia ingin mengujinya, maka dia bertanya: "Nak! Jika aku pergi untuk berjihad, bisa jadi ayah nanti akan terbunuh, dan kamu nanti jadinya tidak punya bapak seperti anak-anak lainnya". Maka mujahidah kecil itu menjawab: "Jika engkau terbunuh maka itu yang utama, karena engkau akan menjadi seorang syuhada' dan masuk jannah dan kita akan masuk jannah bersama-sama".
Inilah iman yang kuat dan fitroh yang bersih serta bentuk pelaksanaan perintah Alloh SWT yang telah tertanam di dalam diri dan sikap anak perempuan kecil itu, dia itulah yang kita butuhkan hari ini di dalam mendidik anak-anak laki-laki dan perempuan kita, kita ingin mendidik mereka dengan tarbiyah iman dan jihad. Maka kita mulai dengan menanamkan aqidah yang benar, yang tidak ada penyakit-penyakit dan tidak ada penyelewengan dari orang-orang yang bersikap toleran dan kaum munafik. Serta mengajari mereka agama yang benar sebagaimana yang telah dibawa oleh Nabi SAW dan salaf sholeh kita, kemudian kita menanamkan pada diri mereka bahwa mereka adalah bagian dari kesatuan umat Islam ini, dan bahwa mereka adalah harapan umat ini setelah Alloh di dalam menyelamatkan dan mengangkat umat dari cengkeraman cakar-cakar kehinaan dan kenistaan serta menyatakan permusuhan secara terang-terangan terhadap umat-umat kafir di muka bumi pada zaman ini. Dan diharapkan mereka dapat mengembalikan kemuliaan dan kekuatan serta puncak kejayaan umat Islam pada zaman ini. Penting juga kita mempersiapkan mereka baik fisik maupun mental, sehingga mereka harus dilatih tentang cara memanggul senjata, berani, dan bertempur mati-matian di medan perang serta mencari kesyahidan di jalan Alloh dan bahwa semua itu adalah sebagai bentuk mendekatkan diri dan ketaatan kepada Alloh yang paling utama, yang dia beribadah kepada Alloh dengannya.2
Kita ingin menghantarkan mereka hingga sampai pada tahapan dimana dia menyerap seluruh makna-makna kemuliaan dan jihad sehingga hiduplah salah satu dari mereka menjadi seorang yang mulia, mujahid, bangga dengan agamanya, pembela umatnya, bahkan dia bangga bahwa dia adalah seorang mujahid yang dapat menjadi pengganjal di leher-leher orang-orang kafir dan munafik.
Kita memohon kepada Alloh untuk memberikan kebaikan kepada anak-anak kita, dan menjadikan kita dan mereka termasuk dari para mujahid di jalan Alloh dan memberikan rizki kepada kita dan mereka dengan kesyahidan serta mengumpulkan kita di Firdausil A'la.

Ket:
1. Makalah ini ditulis oleh wanita mujahidin (Ummu Asy-syahiid)
2. Kebanyakan rumah-rumah di masyarakat kita ini, sangat disayangkan sekali di dalamnya tidak terdapat senjata satupun dan kalaupun ada itu terdapat di tempat yang sangat rahasia yang tidak diketahui kecuali oleh pemilik rumah. Mungkin bahkan sampai yang lainnyapun tidak tahu bahwa sebenarnya dia memiliki senjata dan jika nampak ada di dalam rumah dengan satu jalan atau dengan yang lainnya itu adalah masalah yang menakutkan sehingga dia membawanya hanya untuk memindahkan saja contohnya, sehingga para remaja itu tumbuh menjadi seorang penakut dan pengecut dan berakal kambing yang dia digiring untuk disembelih dan tidak memiliki pembelaan bagi dirinya sedikitpun. Dan inilah yang diinginkan oleh para Yahudi dan Nashroni agar anak-anak Islam tetap seperti itu dan hal itu tidak akan mampu dilaksanakan dengan izin Alloh.

PELAJARAN DARI KEMATIAN

Pernahkah kita membayangkan kalau diri kita sedang berada di atas ranjang kematian, apa yang kita perbuat kala itu? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh semua manusia yang masih hidup. Lalu bagaimanakah keadaan detik-detik terakhir dari nafas kita yang akan berlalu itu? Apakah kita termasuk orang yang senang untuk bertemu Allah, ataukah sebaliknya seperti budak yang melarikan diri dan takut bertemu tuannya karena kesalahan yang dilakukannya?
Belajar dari akhir kehidupan para salaf adalah sangat perlu bagi kita semua, mereka adalah orang-orang terdepan dari umat ini, para pemimpin dan ulama kaum muslimin. Sungguh mereka sangat takut kalau menghadap Allah dalam keadaan membawa dosa dan kemaksiatan.

Marilah kita simak beberapa pelajaran berharga dari mereka:
Aisyah Radhiallaahu anha menceritakan bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tatkala menjelang wafat disediakan untuk beliau satu wadah air, beliau memasukkan tangannya ke dalam air lalu mengusapkan ke wajahnya seraya bersabda, "La ilaha illallah, sesungguhnya di dalam kematian ada sakaratul maut." Kemudian beliau menengadahkan kedua tangan-nya lalu mengatakan, "Fir Rafiqil A'la" lalu beliau wafat dan tangannya tergeletak lemas.
Ketika Umar al Faruq menjelang ajal, beliau berkata kepada putranya Abdullah, "Letakkan pipiku di atas tanah”, namun Abdullah enggan untuk melakukan itu. Beliau berkata hingga untuk ketiga kalinya, "Letakkan pipiku di atas tanah, semoga Allah melihatku dalam keadaan demikian, kemudian Dia merahmatiku. "Diriwayatkan, bahwa beliau terus menangis sehingga pasir-pasir menempel di kedua mata beliau seraya mengatakan, "Celakalah Umar, celaka juga ibunya, jika Allah tidak memaafkannya."

Ketika Abu Hurairah sakit parah beliau menangis, lalu ditanya, "Apa yang membuat anda menangis? Beliau menjawab, "Saya menangis bukan karena dunia ini, namun saya mena-ngisi perjalanan setelah ini (dunia), bekalku yang sedikit, lalu saya akan menapaki tempat yang menanjak lagi amat luas, sementara saya tidak tahu akan dimasukkan ke neraka atau ke surga."
Utsman Radhiallaahu anhu berkata di akhir hayatnya, "Tidak ada ilah selain Engkau, Maha Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang berbuat aniaya. Ya Allah aku mohon pertolongan dalam seluruh urusanku, dan aku memohon kesabaran dalam menghadapi ujian yang menimpaku."
Wahai manusia! Kini saatnya orang-orang yang tertidur untuk bangun dari tidurnya, sudah saatnya orang yang lalai sadar dari keterlenaannya, sebelum datang maut dengan membawa kegetiran dan kepahitan, sebelum tubuh berhenti bergerak dan sebelum nafas terputus. Mumpung belum memasuki perjalanan menuju alam kubur dan kehidupan akhirat yang kekal abadi.
Abu Darda' ketika menjelang wafat mengatakan, "Apakah seseorang tidak mau beramal untuk mempersiapkan panggung pergulatan ini? Mengapa orang tidak beramal untuk menghadapi waktu ini? Mengapa orang tidak beramal untuk menyongsong hariku ini? Kemudian beliau menangis, maka istri beliau bertanya,"Mengapa engkau menangis, bukankah engkau telah menemani Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ? Beliau menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis sementara aku tidak mengetahui bagaimana dosa-dosa telah menyerangku."
Dan berkata Abu Sulaiman ad-Darani, "Aku berkata kepada Ummu Harun seorang wanita yang rajin beribadah, "Apakah anda senang dengan kematian? Maka dia menjawab, "Tidak! Aku bertanya, "Mengapa? Maka dia mejawab, "Demi Allah, andaikan aku berbuat kesalahan kepada makhluk saja, maka aku takut untuk bertemu dengannya, maka bagaimana lagi jika aku bermaksiat kepada Khaliq Yang Maha Agung?
Atha' as Sulami ditanya tatkala sakit yang mengantarkan pada ajalnya, "Bagaimanakah keadaan anda? Beliau menjawab," Kematian berada di leherku, kuburan ada di hadapanku, kiamat adalah akhir perjalananku, jembatan Jahannam adalah jalanku, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Kemudian beliau menangis dan terus menangis sehingga pingsan. Ketika sadar kembali beliau mengucapkan, "Ya Allah kasihanilah aku, hilangakanlah kesedihan di dalam kuburku, mudahkan kesulitanku ketika menjelang kematian, rahmatilah kedudukanku di hadapan-Mu wahai Dzat Yang Paling Pengasih di antara para pengasih.”
Sementara itu ketika Sulaiman at Taimi telah dekat wafatnya, dikatakan kepada beliau, "Kabar gembira buat anda, karena anda adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh di dalam ketaatan kepada Allah." Maka beliau menjawab, "Janganlah kalian mengatakan demikian, sesungguhnya aku tidak mengetahui apa yang tampak di hadapan Allah Azza wa Jalla, karena Dia telah berfirman, "Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. 39:47)
Disebutkan, bahwa Abu Darda'z apabila ada seseorang yang meninggal dalam keadaan yang baik, maka beliau berkata, "Berbahagialah engkau, andaikan aku dapat menggantikan dirimu. " Maka Ummu Darda' bertanya kepadanya tentang hal itu, lalu beliau menjawab, “Betapa bodohnya engkau, bukankah engkau tahu, bahwa ada seseorang yang pagi-pagi dia beriman, namun di sore hari telah menjadi munafik, ia lepaskan keimanannya tanpa dia menyadari hal itu."
Muhammad al Munkadir menangis tatkala menjelang wafatnya, lalu ia ditanya, "Apa yang membuat anda menangis? Beliau menjawab, "Demi Allah aku menangis bukan karena dosa yang aku ketahui telah aku lakukan, namun aku takut jika telah melakukan sesuatu yang aku anggap sepele namun dihadapan Allah ternyata itu adalah sesuatu yang amat besar."
Sufyan ats Tsauri berkata, "Tidak ada tempat yang lebih dahsyat bagiku daripada (tempat) terjadinya sakaratul maut, aku sangat takut kalau dia (sakarat) terus menerus menekanku, aku telah meminta keringanan, namun dia tidak menghiraukan, sehingga aku terkena fitnahnya." Kemudian beliau menangis semalaman hingga menjelang pagi, ketika beliau ditanya, "Apakah tangis tersebut karena dosa? Maka beliau mengambil segenggam tanah dan berkata, "Dosa lebih ringan dari pada ini (tanah, maksudnya adalah maut- pen), aku menangis karena takut terhadap su'ul khatimah (akhir hidup yang buruk).
Shofwan bin Sulaim mengatakan, "Di dalam kematian ada rahah (istira-hat) bagi seorang mukmin dari huru hara dan hiruk pikuk dunia, walaupun harus merasakan putusnya nafas dan kepedihan. Kemudian beliau mengu-curkan air mata.
Wahai saudaraku! Marilah kita mengumpamakan diri kita masing masing sebagai seorang yang sedang berbaring menunggu ajal. Saudara dan tetangga sedang mengerumuni kita, lalu di antara mereka ada yang berkata, "Si Fulan telah berwasiat, sedangkan hartanya telah dihitung." Ada lagi yang berkata, "Si fulan sudah tidak dapat berbicara, sudah tidak mengenali para tetangganya dan mulutnya tertutup rapat. Orang-orang memandangi kita, kita mendengar apa yang mereka perbincangkan, namun tidak kuasa untuk menjawabnya. Lalu kita lihat anak kita yang masih kecil menangis seseng-gukan di sisi kita seraya mengatakan, "Wahai ayah tercinta siapakah yang akan mengasuhku nanti setelah ayah pergi? Siapakah yang akan memenuhi kebutuhanku nanti? Kita mendengarkan semua itu, namun demi Allah kita sudah tidak mampu manjawab lagi.
Syafiq bin Ibrahim berkata, "Bersiap-siaplah kalian semua di dalam menghadapi kematian, jangan sampai ketika ia datang lalu kalian minta di kembalikan lagi ke dunia (karena belum beramal)."
Al 'Alla' bin Ziyad mengatakan juga, "Hendaknya setiap orang dari kalian merasakan, bahwa dirinya telah meninggal, lalu memohon kepada Allah untuk dikembalikan ke dunia, kemudian Allah memenuhinya, maka hendaklah kalian beramal ketaatan kepada Allah."

Syamith bin 'Ajlan menuturkan, "Manusia itu ada dua macam, pertama orang yang terus mencari bekal di dunia, dan ke dua orang yang terus bersenang-senang di dunia. Maka lihatlah, termasuk golongan yang manakah dirimu?”
Dikisahkan, bahwa suatu hari al Hasan al Bashri melewati sekelompok pemuda yang sedang tertawa terbahak-bahak, maka beliau bertanya, "Wahai anak saudaraku, apakah kalian pernah menyebrangi ash Shirath(jembatan Jahannam)? Para pemuda itu menjawab, "Belum." Beliau bertanya lagi, "Apakah kalian tahu ke surga ataukah ke neraka kalian akan dimasukkan?" Mereka menjawab, “Tidak." Kemudian beliau berkata, "Lalu untuk apakah tawamu yang demikian itu?" Semoga Allah memberi maaf kepada kalian semua. Dan ketika beliau menjelang wafat beliau menangis seraya mengatakan, "Jiwa yang lemah, sedang urusan sangat dahsyat dan besar, sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali."
Wahai saudaraku! Kita semua tidak dapat membayangkan bagaimanakah keadaan malam pertama di alam kubur itu. Anas Radhiallaahu anhu pernah berkata, "Maukah kalian kuberi tahu dua hari dan dua malam yang belum pernah diketahui dan didengar oleh manusia (yang masih hidup)? Hari yang pertama adalah hari di mana datang kepadamu pembawa berita dari Allah, baik dengan membawa keridhaan-Nya maupun murka-Nya (waktu meninggal-pen), dan kedua yaitu hari dimana kalian dihadapkan kepada Allah untuk mengambil buku catatan amal, dengan tangan kiri ataukah dengan tangan kanan. Sedangkan dua malam, adalah malam pertama kali di dalam kubur dan malam dimana pagi harinya dilenyapkan tatkala terjadinya Hari Kiamat.
Kematian adalah perkara yang mengerikan, urusan yang sangat dahsyat, suguhan yang rasanya paling pahit dan tidak disukai. Dia adalah peristiwa yang menghancurkan seluruh kelezatan dunia, memutuskan ketenangan, serta pembawa duka dan kesedihan. Dia memutuskan segala yang telah tersambung, memisahkan anggota badan dan menghancurkan seluruh tubuh, sungguh dia adalah perkara yang sangat besar dan mengerikan.

Kita bayangkan bagaimana keada-an kita tatkala kita diangkat dari tempat tidur kita, dibawa ke suatu tempat untuk dimandikan, lalu kita dibungkus dengan kain kafan, keluarga dan tetangga bersedih, saudara dan teman menangis. Orang yang memandikan kita berkata, "Dimanakah istri si fulan, dia akan melepas kepergian suaminya, dan dimanakah anak-anak yatim si fulan, "Kalian semua akan ditinggalkan oleh ayah, kalian tidak akan bertemu lagi dengannya setelah ini."
Jika para Nabi dan Rasul, shalihin dan muttaqin semuanya mengalami hal itu, maka apakah kita akan terlena dari mengingatnya? Wallahu a'lam bish shawab.


Sumber: Buletin Dar Ibnu Khuzaimah, judul " 'Ala Firasyil Maut."

SIAPA BERSANTAI SAAT BEKERJA AKAN MENYESAL SAAT PEMBAGIAN UPAH

Sebagian kita benar-benar telah menyaksikan bagaimana orang-orang zhalim mengintimidasi orang-orang yang beriman di negeri Islam. Mereka melihat betapa polisi, tentara, para algojo, dan orang-orang yang zhalim itu menahan kaum muslimin. Tiada hari berlalu melainkan mereka menahan puluhan bahkan ratusan kaum muslimin. Bahkan para eksekutor itu tidak melewatkan satu malam pun tanpa menyiksa kaum muslimin sejak sekian lama; mereka tidak peduli lagi kepada anak-anak, wanita, orang tua, atau pun pemuda. Siapapun akan mendapatkan bagian terpaan siksa.
Selama tahun-tahun itu banyak akhawat yang dipaksa menggugurkan kandungannya, dipukuli, dan dibiarkan tidur di atas bebatuan di malam musim dingin. Balita pun mendapatkan siksa yang berat, bahkan mereka dibiarkan beberapa hari tanpa makanan.
Bertahun-tahun ikhwah melewati hari raya Idul Fithri antara rumah tahanan, penjara, pengasingan, orang-orang yang terbunuh, dan orang-orang yang terluka. Mereka, keluarga mereka, bapak-baoak mereka, ibu-ibu mereka, anak-anak mereka, dan istri-istri mereka tidak sedikit pun merasakan kegembiraan di hari raya...
Sebagian kita telah menyaksikan hal itu dan juga kejadian-kejadian lain yang terjadi di sekitar mereka, lalu setan menyusup ke dalam jiwa, menghembuskan rasa was-was supaya mereka mencela hikmah di balik takdir. Setan berkata, “Bagaimana bisa Allah membiarkan musuh-musuh-Nya dan para algojo mereka semakin bertambah kuat dari hari ke hari, bertambah canggih alat-alat yang mereka miliki dalam menghadapi orang-orang yang beriman? Mengapa mereka dibiarkan bertambah kokoh dari masa ke masa, mereka merajalela di berbagai penjuru negeri. Mereka memerintah semau mereka sendiri. Bagaimana para pengikut mereka tunduk kepada mereka? Lalu, bagaimana keadaan kalian wahai wali-wali Allah? Kalian tergeletak di atas bebatuan yang bagai salju di musim dingin dan bagai bara di musim panas. Kalian tidak mendapati makanan, minuman, pakaian, selimut, dan bahkan udara yang mencukupi nafas kalian. Ini adalah suatu kenyataan yang tidak akan diyakini kecuali oleh orang-orang yang hidup di tempat seperti ini. bagaimana juga para penguasa sekuler bergelimang kenikmatan, kelezatan, naungan yang nyaman, sedangkan mereka dalam kekuatan penuh untuk menguasai dunia? Bahkan, bagaimana para algojo itu selalu hidup dalam tawa dan canda, sementara pada saat yang sama banyak ikhwah yang ditahan bagai binatang sembelihan oleh tangan mereka di belakang punggung mereka, ia berteriak sedemikian kerasnya sampai pingsan?”
Inilah was-was yang dihembuskan oleh setan di saat-saat yang berat seperti ini. Ini pulalah kata nafsu ammarah bissuu` di masa-masa yang sulit. Ini semua membutuhkan mujahadah yang serius. Ini semua adalah ujian besar yang benar-benar membutuhkan keteguhan untuk menghadapinya.
Kepada setiap aktivis hendaknya berbicara kepada diri sendiri, “Bukankah jika Allah hendak mengambil para syuhada, Dia menciptakan kaum yang membuka tangan mereka untuk membunuh orang-orang yang beriman. Apakah pantas ada orang yang menusuk Umar selain Abu Lu’lu’ah? Atau Ali selain Abu Muljam? Atau Sumayyah selain Abu Jahal?”
Hendaknya pula setiap ikhwah mengingatkan diri masing-masing dengan firman Allah
إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا
Artinya: “Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka.”(QS.Ali ‘Imran : 178)
Juga firman Allah
سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لاَيَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
Artinya: “nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku Amat tangguh.”(QS.al-Qalam : 44-45)
Karenanya, hendaknya ia menasehati diri sendiri dengan nasehat Ibnul Jauzi, “Ada dalil yang menjelaskan bahwa seorang yang beriman kepada Allah itu seperti seorang buruh harian. Masa kerjanya selama benderangnya siang. Nah, seorang yang dipekerjakan di sawah mestinya tidak memakai baju yang bersih. Semestinya ia bersabar selama masa kerja. Barulah seselesainya, ia membersihkan diri dan memakai pakaiannya yang terbaik. Barangsiapa bersantai-santai di saat bekerja akan menyesal saat pembagian upah, ia akan menanggung akibat atas kelambanannya dalam menuntaskan pekerjaannya. Poin ini akan menguatkan kesabaran.”
Selanjutnya hendaklah berkata kepada diri sendiri, “Biarlah mereka mengambil dunia ~itu pun jika dunia mau~ sedangkan kita, cukuplah akhirat menjadi milik kita.”
Dunia seisinya ini adalah kelezatan sementara yang di sisi Allah tak sebanding dengan selembar sayap nyamuk. Dengan hati dan lisan, hendaknya ia mengulang-ulang pernyataan para mantan penyihir Fir’aun ~setelah hati mereka diluapi keimanan~ kepada Fir’aun masa kini dan masa yang akan datang,
فَاقْضِ مَاأَنتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَآ
Artinya: “Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.”(QS. Thaha ayat 72)
Hendaknya ia juga mengingatkan diri bahwa para thaghut itu, meski mereka dapat memenuhi dunia dengan guncangan, himpitan, dan ancaman kepada orang-orang yang beriman; sesungguhnya kehinaan, rasa sesak, dan kegelisahan yang diakibatkan oleh kemaksiatan tidak akan meninggalkan mereka selama-lamanya. Hasan Bashri berkata, “Mereka itu, walaupun bighal tunduk dan kuda-kuda berjalan bagus di hadapan mereka, sesungguhnya kehinaan yang diakibatkan oleh kemaksiatannya dapat terbaca pada raut mukanya. Sesungguhnya Allah hanya akan menghinakan orang yang bermaksiat kepada-Nya.”
Semua ini hanya dapat dirasakan dan dimengerti dengan sebenarnya oleh orang-orang yang benar-benar beriman, shalih, dan benar-benar mengerti tentang Rabb mereka, Penolong mereka yang sebenarnya. Mereka yang mengerti benar bahwa masa mereka dengan para thaghut akan segera berakhir. Kendaraan telah diparkir dan para penumpang telah bergegas-gegas turun.

Sumber: Kepada aktifis muslim

Selasa, 06 Desember 2011

AKHLAK SALAF bagian ke-4

KAUM SALAF DAN FATWA

Dari Nafi’, dia menyebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya tentang suatu masalah kepada Ibnu Umar. Namun beliau malah menundukkan kepalanya dan sama sekali tidak menjawab pertanyaan orang itu. Orang-orang mengira bahwa beliau benar-benar tidak mendengar pertanyaan laki-laki tersebut. Kemudian laki-laki tersebut kembali berkata kepada beliau,"Semoga Alloh melimpahkan rahmat kepadamu. Apakah anda tidak mendengar peranyaanku?” Ibnu menjawab, “Aku mendengarnya. Akan tetapi seakan-akan kalian mengira bahwa Alloh tidak akan meminta pertanggungjawaban atas pertanyaan yang kalian ajukan kepadaku. Olehkarena itu tinggalkanlah kami terlebih dahulu -semoga Alloh melimpahkan rahmat kepadamu- sampai kami bisa memahami pertanyaanmu. Jika kami menemukan jawabannya, maka kamipun akan menyampaikan jawaban tersebut. Akan tetapi ji tidak, maka kamipun akan memberitahukan kepadamu bahwa kami tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu.” (Shifatu Ash-Shafwah I/566)

Dari Musa bin Ali bin Rabbah, dari ayahnya dia berkata, “Jika ad yang bertanya kepada Zaid bin Tsabit maka beliau akan berkata, “Apakah kejadian yang kamutanyakan benar-benar ada?” Jika orang yang bertanya tadi menjawab, “ya” beliaupun akan menanggapinya. Akan tetapi jika dia menjawab “tidak”, maka Zaid tidak akan membahasnya.” (Siyaru A’lam An-Nubala, II/438)

Dari Ayub dia berkata, “Ketika berada di Mina aku telah mendengar Al- Qosim ditanya tentang sesuatu. Ternyata pada waktu itu ia menjawab saya tidak tahu. Ketika orang-orang terus mendesak dengan pertanyaan, beliau tetap saja berkata, “Demi Alloh, aku tidak mengetahui semua yang kalian tanyakan kepadaku. Seandainya aku tahu, tidak mungkin aku akan menyembunyikan ilmu dari kalian. Sebab seorang yang hidup dalam keadaan bodoh –setelah ia mengetahui hak Alloh- akan lebih baik baginya daripada ia alim tetapi ketika ditanya tidak memberitahukan jawabannya.” (Shifatu Ash-Shafwah II/89)

Sabtu, 26 November 2011

AKHLAK SALAF bagian ke-3

KAUM SALAF DAN MENGHINDARI AMBISI KEPEMIMPINAN
Dari Sufyan, dia berkata, Al-Ahnaf berkata, Umar bin Al-Khathab berkata kepada kami, “Jadilah kalian seorang ahli fiqih sebelum kalian dianggap menjadi pemimpin!” Sufyan berkata, “Sebab jika seseorang mengerti ilmu agama, dia tidak akan mencari kepemimpinan.” (shifatu ash-shafwah, II/236)

Dari Yusuf bin Asbath, aku telah mendengar Sufyan berkata, “Aku tidak tidak pernah mendengar ada sifat zuhhud pada sesuatu yang lebih sedikit daripada zuhud terhadap kepemimpinan. Kamu mungkin banyak menjumpai orang yang bisa zuhud terhadap makanan, minuman, harta dan busana. Namun jika kita tidak membagikan kepemimpinan kepada mereka, mereka akan segera mempertahankan dan memperebutkannya.” (Siyaru A’lam An-Nubala,VII/262)

KAUM SALAF DAN PEMAHAMAN TERHADAP AGAMA
Ibnu Uyainah berkata, ‘Amir bin Al-‘Ash berkata, “orang uang berakal itu bukan orang yang mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Akan tetapi yang dimaksud orang yang berakal adalah orang yang dapat mengetahui kebaikan diantara dua keburukan.” (Siyaru A’lam An-Nubala,VII/74)
Ibnu Baththah berkata, “Aku mendengar Al-Barbahari berkata, ‘Duduk bersama untuk saling memberi nasihat bisa membuka pintu faidah. Sedang duduk bersama untuk saling berdebat bisa menutup pintu faidah. (Siyaru A’lam An-Nubala, XV/91)
Ar-Robi’ berkata, aku mendengar Asy-Syafi’i berkata, “Berdebat dalam masalah agama dapat menyebabkan hati menjadi keras, dan mengakibatkan perasaan dendam.” (Siyaru A’lam An-Nubala, IX/28)

KAUM SALAF DAN KETUNDUKAN PADA KEBENARAN
Dari Abdurrahman bin Abdulloh bin Mas’ud, dari ayahnya dia berkata, “Ada seorang yang datang kepaada Abdulloh bin Mas’ud seraya berkata, “Wahai Abu Abdurrahman, beritahukan kepadaku kalimat yang simpel namun banyak mengandung manfaat!” Abdulloh menjawab, “Janganlah kamu menyekutukan Alloh. Berjalanlah bersama Alqur’an kemana saja kamu pergi. Jika ada kebenaran yang datang kepadamu, janganlah segan-segan untuk menerimanya, sekalipun kebenaran itu sangatjauh letaknya dan tidak menyenangkan. Dan jika ada kebatilan yang datang kepadamu, tolaklah ia jauh-jauh, sekalipun kebatilan itu sangat kamu sukai dan sangat dekat denganmu.”(Shifatu Ash-Shafwah I/419)